Kamis, 17 November 2011

Pasar Tasik


Dari awal mulai dagang Uni (temen sharing tempat) suka cerita tentang pasar Tasik, trus temen dagang yg lain juga suka ada yg sebut2 pasar Tasik, dan blm lama sepupu gw jg nyebut Pasar Tasik, baru tergerak gw utk cari tau infonya...
Susah juga klo mo liat keriaan pasar Tasik secara langsung, karena cuma buka pada hari Senin dan Kamis dari subuh sampai jam 10 pagi aja... Disebut pasar Tasik karena awalnya yg berdagang disini mayoritas warga Tasik yg menjajakan hasil karya pengrajin dari desa mereka, karena itu suasana di pasar Tasik seperti di daerah sunda banyak dialek kental khas Sunda, padahal pasar Tasik ini justru berada di wilayah Tanah Abang yg terkenal sebagai pusat grosir nusantara bahkan pusat grosir asia. Letak persisnya di dekat stasiun Tanah Abang.
Kalo disebut grosir udh pasti dunk barang yg dijajakan di sini itu kodian atau lusinan, soal harga di sini lebih murah lagi dibanding harga di kawasan blok2an Tanah Abang. Produk yg dijajakan kebanyakan garmen.. pakaian, baju muslim, jilbab, mukena dll (pokoknya yg pake jahit menjahit gitu, mungkin menjahit itu hobi orang Tasik). Kalo ada niat beli baju dalam jumlah banyak untuk seragam even, seragam nikahan, sumbangan ke panti asuhan atau bahkan mau wirausaha dagang pakaian, ga ada salahnya utk liat2 atau mungkin belanja di pasar Tasik.. sesuai prinsip dagang modal harus seminimal mungkin, udah murah kalau masih bisa ditawar ya tawar aja lagi..

info di dapat dari sana dan sini

Label: ,

Rabu, 27 Juli 2011

Mental Pengusaha

bagus bgt nih utk di share untuk yg mau wirausaha... taken from twitnya @AidilAkbar
#MentalPengusaha #wiRABUsaha

#Menta
lPengusaha 1. Result oriented, hasil akhir dan prestasi #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope

#MentalPengusaha 2: Asset Growth, bagaimana caranya agar aset & usaha saya berkembang dan besar #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope


#MentalPengusaha 3: Mau melakukan apapun sendiri alias Mandiri, bs mengatur usaha n waktu sendiri #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope


#MentalPengusaha 4: Disiplin tingkat tinggi dalam hal apapun #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope


#MentalPengusaha 5: Manajemen waktu yg bagus, tidak membuang2 waktu utk hal sepele & tidak berguna #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope


#MentalPengusaha 6: Selalu melihat dan mencari peluang baru #wiRABUsaha 1 wk ago via UberSocial for BlackBerry


#MentalPengusaha 7: Mampu memotivasi diri sendiri, plus motivasi orang lain #wiRABUsaha 1 wk ago via UberSocial for BlackBerry

#MentalPengusaha 8: Punya tingkat kreativitas yang tinggi #wiRABUsaha 1 wk ago via UberSocial for BlackBerry


#MentalPengusaha 9: Leadership leadership leadership, wajib punya karakter pemimpin #wiRABUsaha 1 wk ago via UberSocial for BlackBerry


#MentalPengusaha 10: Ngak takut sama resiko, apalagi resiko bisnis, dah biasa itu #wiRABUsaha 1 wk ago via UberSocial for BlackBerry


#MentalPengusaha 11: Decision, berani ambil keputusan, apalagi disaat genting #wiRABUsaha 1 wk ago via UberSocial for BlackBerry


#MentalPengusaha 12: Jadilah "petarung" ,siap utk bertarung di pasar & jenis usaha yg kita pilih #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope


#MentalPengusaha 13: Berwawasan luas & update, makanya baca tuh internet/koran/majalah ekonomi&politik #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope

#MentalPengusaha 14: Selalu ingin belajar hal-hal baru #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope

Label: , ,

Senin, 11 Oktober 2010

8 "P" yang Bikin Pelanggan Setia



Jumat, 1/10/2010 | 12:16 WIB
KOMPAS.com - Pelanggan adalah raja. Ujar-ujar tersebut tidak salah. Karena karena merekalah usaha pebisnis bisa terus hidup dan berjalan. Maka dari itu, ada baiknya para pebisnis mengtahui apa yang penting dan diinginkan oleh para pelanggan. Berikut adalah paparan Cyltamia Irawan, penulis buku Secangkir Kopi untuk Sahabat Customer dan CEO lembaga konsultan Lentera mengenai 8 hal yang diinginkan pelanggan

1. Product Apa yang akan Anda jual? Produk atau jasa apa? Apakah hal tersebut memiliki keunikan? Apa bedanya dengan produk pesaing? Jika produk Anda sama saja dengan produk yang sudah ada dan tidak ada keistimewaan, orang sulit untuk mengenal Anda atau mau pindah dari tempat sebelumnya.

2. Price
Berapa harga yang ditawarkan? Ketahuilah, pelanggan pasti akan mencari harga yang lebih murah jika pelayanan, kualitas, dan produk yang ditawarkan sama saja. "Perbedaan harga itu penting. Jika Anda menjual produk seharga Rp 10.000 dan pesaing menjual dengan harga Rp 9.999, pasti akan berpengaruh. Tetapi jangan lalu jadi membiarkan terjadi persaingan harga terus menerus," jelas perempuan yang sering dipanggil dengan nama Tami ini di acara Beautifying Indonesia, Martha Tilaar Group beberapa waktu lalu di Jakarta Convention Center.

3. Place
Dimana dan channel apa yang digunakan? Lokasi strategis dan kemudahan akses akan menjadi hal penting dan menyenangkan bagi pelanggan.

4. Promotion
Ketahui apa yang kira-kira akan membuat pelanggan bergairah untuk membeli barang Anda? Gimmick promosi akan menjadi hal yang menyenangkan bagi pelanggan. Pelanggan tentu akan menghitung value yang bisa ia dapatkan dari harga yang ia keluarkan.

5. Process
Seperti apa pelayanan Anda? Misal, jika Anda pemilik salon yang menyediakan pelayanan creambath yang urutan umumnya sudah jelas, tentu pelanggan yang datang ke tempat Anda juga mengharapkan proses pelayanan yang jelas dan memuaskan, kan? Pelanggan pasti kesal jika ternyata urutannya berantakan dan malah bikin pusing.

6. People Siapa yang akan mengurus saya sebagai pelanggan? Bayangkan diri Anda sebagai pelanggan di sebuah salon. Tidakkah Anda akan mengharap bahwa orang yang mengurus Anda adalah orang yang kompeten, ramah, dan mengutamakan kenyamanan Anda? Sama seperti itu pula pelanggan lain mengharapkan pelayanan yang akan ia dapatkan .

7. Pace
Waktu adalah hal yang penting. Apalagi saat seperti sekarang ini. Pelanggan butuh pelayanan yang cepat. Siapa yang mau menunggu lama untuk dilayani? Penuhi kebutuhan pelanggan dengan waktu yang singkat.

8. Proof "Pelanggan adalah iklan berjalan!" ujar Tami. Tak percaya? Coba ingat-ingat, jika Anda pernah mengalami sebuah pengalaman pelayanan atau produk yang menyenangkan dan baik, tidakkah Anda akan merekomendasikan kepada orang lain? Pelanggan butuh bukti. Saat mereka terpuaskan, niscaya ia akan bawa orang lain ke tempat itu.

Label: , ,

Jumat, 27 Agustus 2010

7 Kesalahan Saat Memulai Bisnis

Grafik yang menurun di tahun-tahun pertama adalah hal yang wajar bagi pemula bisnis.
Artikel Terkait:
Jumat, 27/8/2010 | 14:37 WIB

KOMPAS.com — Kurva pemasukan yang menunjukkan penurunan akan membuat seorang pemula bisnis merasa ciut, apalagi jika hal tersebut terjadi di tahun pertama. Ketahuilah bahwa akan selalu seperti itu. Namun, supaya tidak merugi parah, ketahuilah kesalahan-kesalahan yang umum terjadi. Berikut adalah 7 kesalahan terumum yang dilakukan pebisnis pemula dan beberapa saran untuk menghindari kesalahan tersebut dari Joana L Krotz, penulis buku Microsoft Small Business Kit:

1. Tak punya peta
Selalu didengungkan agar para wirausahawan yang ingin memulai usaha untuk mengisi diri dengan bahan bakar "gairah/passion" supaya tak gampang menyerah. Tetapi sejujurnya, Anda tak hanya butuh bahan bakar untuk bergerak saja, Anda butuh rencana!

Ambillah waktu untuk menyelidiki pasar dan target pelanggan, kompetisi, dan hal lainnya. Fokuskan diri untuk menjawab pertanyaan: "Bagaimana caranya menghasilkan pendapatan dari usaha ini?"

Ambil contoh kasus; Anda membuka toko rental DVD karena lokasi yang agak terpojok, Anda memusatkan diri agar terlihat oleh orang lain. Mencoba memeriahkan dekorasi eksterior dan interior agar dilihat orang. Modal Anda pun tersedot ke sana. Alhasil, film-film yang Anda miliki tidak memiliki inventaris yang bagus. Alhasil, para pelanggan yang sudah berhasil masuk, keluar dengan kecewa, Anda pun tak berhasil mendapatkan pendapatan. Pelajaran yang bisa diambil adalah perencanaan yang matang sejak awal dan fokus. Jangan berbuat nekat jika tak ada perencanaan yang jelas.

2. Menjual di bawah harga pasar
"Banyak wirausahawan menilai barang atau menempatkan harga miliki terlalu murah," ungkap Linda Hollander, penulis buku Bags to Riches. Artinya, hal ini akan membuat mereka selalu mengkhawatirkan tentang uang. Setiap kali mereka mendapatkan pesanan, tak ada rasa senang, karena harga yang dipatok terlalu rendah dan tak ada keuntungan yang didapat.

Sebelum mencantumkan harga, lakukan perhitungan. Hitung pengeluaran tetap dan pengeluaran sewaktu-waktu. Lakukan riset pasar dan nilai harga kompetitor. Perhitungkan margin yang Anda butuhkan untuk mendapatkan keuntungan yang dibutuhkan.

3. Memulai bisnis cuma untuk coba-coba
Kebanyakan wirausahawan hanya melihat gambaran besar; tipe visioner, pengambil risiko, pencari tantangan. Makin berhadapan dengan tantangan, makin bersemangat mereka. Tak jarang, tipe ini mencari-cari masalah supaya bisa menemukan tantangan dan merasa lebih bersemangat.

"Pewirausaha yang merasa bosan adalah salah satu senjata pembunuh yang tersembunyi dalam perusahaan kecil yang terlihat sehat," jelas Ralph Warner, penulis buku How to Run a Thriving Business. Tujuan untuk menjalankan bisnis adalah untuk mencetak uang. Jangan mencoba mengambil risiko hanya untuk mendapatkan keseruan. Anda membahayakan seluruh perusahaan dan orang-orang di dalamnya.

4. Tak mengerti tentang marketing sedikit pun
Jarang sekali orang-orang yang baru memulai bisnis menyusun rencana atau menyiapkan anggaran untuk marketing. Umumnya, pemilik usaha baru ini berpikir bahwa marketing adalah pengeluaran yang tak diperlukan. Atau, lebih parahnya, menyamaartikan marketing dengan sales.

"Marketing harus memikirkan tentang penjualan di masa depan. Sementara salesmarketing communications di San Jose, California. Permasalahan mendasarnya adalah kurangnya pengalaman mengenai proses siklus sales. Pemula bisnis biasanya meng-hire orang sales lebih dulu. Idealnya, hire orang yang bisa membantu merencanakan proyek dan menyusun langkah ke depan, baru utus para sales untuk berjualan.

5. Bos tidak sama dengan sahabat
Di awal pembukaan bisnis, setiap orang tampaknya bekerja 3-4 jabatan sekaligus. Sepertinya tak perlu memusingkan alur manajemen. "Ketika mengawali sebuah bisnis, prosesnya diciptakan secara tak sengaja," ujar Jay Arthur, penulis buku Six Sigma Simplified Training. Penyelesaian masalah biasanya terjadi menggunakan nalar dan perasaan saja. Perusahaan berkembang lewat trial and error. Namun, pada suatu titik, kemampuan untuk menyelesaikan masalah pelik mulai diperlukan. Karena tak ada standard operating procedure, dan beban pekerjaan pun tak seimbang, lama kelamaan sulit untuk para karyawan bekerja di tempat seperti itu. Yang bisa dilakukan adalah dengan mengambil sikap dan membuat prosedur tertentu untuk mengatasi masalah, atau tunjuk bawahan untuk menjalankan hal itu.

Ciptakan sebuah buku manual aturan yang mendefinisikan mengenai pembagian kerja, mengenai pemecatan, kepegawaian, penilaian, cuti, kompensasi, promosi, dan lainnya.

6. Menghamburkan modal
Kebanyakan pemilik usaha baru kurang merencanakan kebutuhan finansial mereka. Umumnya, pemilik perusahaan yang baru menghamburkan uang pada barang-barang yang kurang dibutuhkan, seperti furnitur, teknologi dan barang kantor, atau mempekerjakan terlalu banyak ahli atau eksekutif ketimbang yang dibutuhkan. Perlu diketahui pula bahwa jarang ada pelanggan yang membayar kewajiban tepat waktu. Jadi, meski sales berhasil menutup deal, pembayaran bisa saja terjadi belakangan. Akan lebih baik jika Anda memiliki akuntan yang bisa melakukan analisis.

7. Lupa memperhitungkan orang terkasih
Pemula membutuhkan waktu 80-100 jam per minggu untuk bekerja membangun perusahaannya. Mereka akan butuh orang yang bisa mendorong mereka. "Amat dibutuhkan pasangan yang memiliki waktu, komitmen, kesabaran, serta mau mengorbankan penghasilannya agar hubungan tersebut bisa langgeng," jelas Victor Sim, pengacara di Squire, Sanders & Dempsey.

Anda harus berkomitmen untuk tetap memerhatikan mereka juga. Jangan biarkan peluncuran perusahaan Anda malah menyakiti orang-orang yang Anda sayangi. harus memikirkan berapa banyak penjualan yang terjadi hari ini," jelas Rob Gelphman, yang menjalankan perusahaan

Label:

Rabu, 02 Juni 2010

Menjadi Pemilik Usaha yang Berani Ambil Risiko


Anda harus pandai meriset pasar untuk mencari tahu jalan mencari celah Anda untuk bisa unggul.

Selasa, 1/6/2010 | 13:19 WIB

KOMPAS.com - Begitu kerasnya persaingan bisnis di luar sana. Setiap perusahaan, khususnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM), membutuhkan pimpinan yang bisa berpikiran maju dan berani mengambil keputusan meski berisiko. Berikut adalah 10 strategi Renee Martin, penulis The Risk Takers: 16 Women and Men Share Their Entrepreneurial Strategies for Success untuk para pemimpin yang ingin mencoba mengambil risiko demi kemajuan perusahaannya.

1. Pergilah berburu pasar yang khusus
Identifikasikan dan penuhi kebutuhan pasar yang niche (khusus) yang telah dibiarkan oleh kompetitor. Bangun sebuah kebisaan yang unggul dari perusahaan Anda. Ingat, sebuah perusahaan besar tak bisa menawarkan segalanya kepada semua orang. Kebanyakan ceruk pasar terlalu kecil untuk mereka pertimbangkan. Ambillah ceruk-ceruk yang terlewatkan tersebut.

2. Cari tren baru dan masuklah
Cari kebutuhan dan keinginan konsumen yang timbul dari perubahan tren kultural, ekonomi, atau teknologi yang mensinyalkan kesempatan dalam pasar baru. Bertindaklah dengan cepat, jangan tentatif.

3. Mulai!
Berhentilah mencari-cari alasan untuk tak segera memulai upaya Anda. Waktu paling tepat untuk meluncurkan bisnis tak akan pernah bisa diprediksi. Jangan biarkan bakal calon pesaing mengalahkan Anda untuk mencuri start. Mulailah bergerak. Siapkan gol jangka pendek dan tenggat waktu yang bisa membantu Anda semakin dekat dengan pembukaan bisnis Anda.

4. Singkirkan nasihat konvensional
Tak perlu dimasukkan ke dalam hati setiap omongan orang yang mengatakan, "tak akan berhasil, deh," atau ucapan, "belum pernah ada yang mencoba cara itu, lho." Sesekali, tak ada salahnya untuk melencong sedikit dari formula dan cara baku yang ada di teks referensi bisnis. Perhatikan cara-cara para praktisi di industri mencoba membangun bisnisnya dengan cara pandang yang hiperkritis. Pelajari mendalam dari berbagai sudut pandang, dan bangun skenario kemungkinan-kemungkinan terburuk terjadi.

5. Eksploitasi kelemahan kompetitor Anda dan buat hal tersebut menjadi kekuatan Anda
Ambil cara pandang kritis dari kompetitor Anda dari perspektif pelanggan. Dengarkan kebutuhan dan komplain dari pelanggan prospektif yang diterima oleh para sales. Hal ini akan membantu mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan kompetitor. Cari untuk menghilangkan kelemahan tersebut dari servis atau produk Anda, lalu pastikan perusahaan Anda lebih baik dalam hal tersebut.

6. Mengisi ceruk
Adalah hal yang penting untuk bisa mengidentifikasi pasar dan kebutuhan mereka. Apalagi pada area-area yang tak terjangkau oleh kompetitor A nda. Pelajari bagaimana mengantisipasi area baru yang kemungkinan akan ada kebutuhan akan servis dan posisi dari bisnis Anda selangkah lebih maju dari kompetitor.

7. Simpan uang dan pastikan Anda mendapat eksposur tanpa terlalu banyak mengeluarkan uang
Bagaimana Anda bisa menjual barang atau jasa jika tak ada seorang pun yang mengenal produk Anda? Saat ini ada banyak cara untuk membuat perusahaan Anda dikenal. Salah satunya adalah dengan iklan. Namun, yang namanya iklan, semua perusahaan pasti akan bilang bahwa produknya yang nomor 1. Cara lain adalah dengan menggunakan cara kehumasan (PR). PR adalah cara bagaimana membangun imej suatu lembaga atau seseorang dari sudut pandang yang berbeda, menjual tapi tidak sekeras iklan. Coba cari cara dan cari informasi lebih lanjut mengenai hal ini.

8. Percayakan insting
Bangun dan pelajari bagaimana untuk menggunakan kekuatan intuitif Anda. Intuisi, disamping perhitungan yang tepat adalah aset yang paling berharga untuk menghadapi pasar persaingan. Ketika tekanan meninggi dan bencana mengancam, dan semua orang menyarankan agar Anda bermain aman, amat penting untuk mempercayakan insting Anda untuk mulai bergerak.

9. Jangan biarkan kesulitan atau kegagalan mematahkan semangat
Jangan biarkan batasan dari orang lain atau keadaan menempatkan posisi Anda di tempat yang tak Anda inginkan. Sebagai seorang wirausahawan, Anda pasti sudah pernah mengalami momen-momen penuh tekanan yang mengetes kepercayaan diri Anda. Lawanlah dengan ketekunan dan ketahanan. Percaya pada ide bisnis Anda dan komitmen untuk melihat usaha Anda maju.

10. Jangan berhenti berinovasi
Carilah cara -cara untuk memperkenalkan produk baru dan servis untuk pelanggan yang sudah Anda miliki dan ceruk pasar yang baru Anda dapatkan. Pikirlah, bahwa kepuasan diri sebagai ancaman untuk memperpanjang usia perusahaan Anda. Jangan pernah lengah.

Label:

Sabtu, 30 Mei 2009

Mempersiapkan Usaha Mandiri sejak Dini


Mengandalkan gelar sarjana untuk mencari kerja sudah tidak zamannya. Sekarang, di saat lapangan kerja semakin sempit, mau tak mau menuntut sebagian mahasiswa untuk mempersiapkan usaha mandiri sejak dini.

Gelar sarjana belum tentu menjamin masa depan. Tengok saja, begitu lulus kuliah banyak dari mereka menganggur. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pengangguran bergelar sarjana semakin meningkat pesat empat tahun terakhir ini. Sekadar ilustrasi, tahun 2004 tercatat 348.107 pengangguran sarjana. Pada tahun 2008 meningkat jadi 598.318 orang.

Seakan sadar oleh kondisi serba sulit yang bakal menghadang itu, Vidia (21) memutuskan merintis usaha jual-beli mutiara. ”Awalnya, saya sulit meyakinkan papa kalau dengan menjual mutiara saya bisa membiayai hidup,” kata Vidia yang masih berstatus mahasiswa Jurusan Ilmu dan Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Sejak tahun 2005, Vidia merintis usaha jual-beli mutiara air tawar, yang didatangkan dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, kampung halamannya sendiri. Ia melihat peluang bisnis ini ketika seorang teman titip beli mutiara untuk hadiah ibunya. Teman itu menitip uang Rp 400.000. ”Dari situ saya berpikir ada banyak mahasiswa di kampus dan mereka berpotensi menjadi pasar,” tutur Vidia.

Ikhsan (21), mahasiswa semester delapan Jurusan Agribisnis IPB, memulai usaha ternak domba ketika masih kuliah di semester dua. Ketika itu ia hanya membeli satu ekor domba lalu menjualnya lagi saat Idul Adha.

Sekarang Ikhsan sudah memiliki usaha ternak skala kecil yang diberi nama Agrifarm. Usaha ternak itu ia kelola bersama lima temannya, yakni Mitha, Irma, Dinar, Iqbal, dan Uzainah. ”Dengan beternak, saya bisa menerapkan ilmu yang didapat dari bangku kuliah,” kata Ikhsan.

Bermodal proposal

Mereka yang memulai usaha sambil kuliah ini tidak selalu bergantung pada orangtua untuk mendanai bisnisnya. ”Masalah modal bisa diatasi dengan kreativitas. Kita harus kreatif dan menjaga kepercayaan agar bisa menarik investor,” kata Vidia.

Vidia yang pernah dilarang ayahnya berbisnis ini mulai berjualan mutiara dengan modal Rp 4 juta. Uang modal itu diperoleh dari hadiah lomba bidang ilmu pengetahuan yang pernah dimenanginya.

Dengan uang modal itu, Vidia berbelanja perhiasan mutiara di Lombok, lalu menjualnya lagi ke teman-teman dan kenalannya. Dengan harga sekitar Rp 30.000-Rp 100.000 (pada waktu itu), mutiara Vidia laris manis. Agar usahanya mudah dikenal, Vidia memakai merek dagang Mandalika Pearl.

Karena semakin banyak pesanan, ia mulai membutuhkan modal lebih besar. Mulailah Vidia menggandeng empat temannya, Bismi, Marsheilla, Evita, dan Nofaria, untuk menjadi investor sekaligus ikut mengelola Mandalika Pearl.

”Kami teman akrab, tetapi untuk urusan bisnis tetap harus ada surat perjanjiannya,” kata Vidia. Mereka pun berbagi tugas. Untuk urusan desain dan pemasaran dipegang Vidia, sementara teman yang lain kebagian tugas pemasaran, keuangan, dan publikasi.

Untuk menarik investor, Vidia dan teman-temannya membuat proposal yang cukup meyakinkan. Isinya menjelaskan bisnis mutiara berikut prospek pengembangan bisnisnya. Agar calon investor percaya, Vidia menyertakan juga aliran uang kas bisnisnya.

Hasilnya, Mandalika Pearl mendapat bantuan dana dari IPB sebesar Rp 8 juta. Selain itu, beberapa orangtua mahasiswa juga tertarik menjadi investor. Sekarang usaha yang dikembangkan Vidia bersiap membuka galeri sendiri di Jakarta. Produk mereka juga dipasarkan di beberapa mal di Jakarta dan sudah memiliki distributor di beberapa daerah.

Pinjaman

Perjalanan usaha Mohammad Ikhsan agak berbeda. Ia langsung mendapat pinjaman modal dari seorang pemasok domba di Bogor untuk mengembangkan usahanya. ”Dasarnya hanya kepercayaan saja,” tutur Ikhsan.

Awalnya, uang pinjaman sebesar Rp 20 juta itu digunakan Ikhsan untuk membeli 20 ekor domba kecil dan membangun kandang seluas 24 meter persegi di Bojong Kerta, Bogor.

Kandang itu berada di belakang rumah Irma, salah satu rekan Ikhsan. Sekarang Agrifarm sedang membesarkan 25 ekor domba dari Garut, Jawa Barat. Omzet yang bisa diraih Agrifarm sekitar Rp 19 juta setiap kali memasuki perayaan Idul Adha. Di luar itu, kambing mereka dijual untuk keperluan acara perayaan kelahiran dan pesta.

Sutanto (22) dan Hanif Affandi (21), keduanya dari Jurusan Ilmu Komputer IPB, memulai usaha nyaris tanpa modal sama sekali. Berbekal keahlian di bidang informasi teknologi mereka bergabung dengan tiga teman lainnya membentuk Nightfal dan memulai usaha di bidang desain situs, aplikasi untuk telepon genggam, dan instalasi jaringan.

Proyek yang digarap tidak main-main. Mereka pernah mendapat pesanan membuat aplikasi quick count saat pemilu legislatif dari sebuah lembaga survei. Nilai proyeknya mencapai Rp 30 juta. Namun, setelah proyek itu dikerjakan, ternyata lembaga survei itu membatalkannya secara sepihak. Mereka pun hanya dibayar Rp 2,5 juta. ”Ini pengalaman kami agar lain kali bisa membuat perjanjian yang lebih jelas,” kata Sutanto yang ditunjuk sebagai bos di Nightfal.

Dengan kejelian melihat peluang dan penataan manajemen, para mahasiswa ini telah berhasil menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Tentu usaha mereka pantas dijadikan pegangan di masa krisis global seperti saat ini....

oleh Lusiana Indriasari & Ratih Prahesti

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/03/03292120/mempersiapkan.usaha.mandiri.sejak.dini

Label: