Selasa, 29 November 2011

English

she is so perfect n inspiring me to speak english well

Label:

Kamis, 27 Oktober 2011

Recehan




Suatu perbincangan di suatu tempat

A : lu pegangin recehan mo buat apaan tuh?
B : buat anak kecil yg di depan mesjid, emang knp?
A : lu kumpulin aja lagi dicelengan gitu.. lumayan tau setahun bisa nyampe sekitar gope (5oo rb)
B : oh ya.. lumayan banget, Alhamdulillah yah..
A: iya lumayan kan.. segitu bisa buat beliin apaan gitu..
B : justru Alhamdulillah.. berarti amal gw setahun sekitar segitu..
A : *glek

Apa yg kita makan, pasti habis. Apa yg kita simpan, belum tentu akan kita nikmati. Apa yg kita infaqkan, justru menjadi rizqi yg kita perlukan

Label: , ,

Selasa, 04 Oktober 2011

Change & Improve Vertically

Artikel diambil dari sini ... keren banget untuk dibaca... nice to share :)



Berubah Secara Vertical..!!!


Ini adalah pagi yang terbaik untuk memulai hidup lebih baik, kenyataannya semua orang ingin berkembang. Tapi ini hal yang hanya mudah dikatakan daripada berbuat!!


Lalu bagaimana cara kita bisa berkembang???

Cara terbaik dan tercepat adalah belajar dari orang-orang yang sudah berhasil menjalani apa yang sedang kita jalani. Jadi kenapa tidak kita duplikasi saja…

Jika anda sekarang berada pada level 1, anda dua punya pilihan:

  • Terus bereksprimen, gagal, dan menjadi frustasi di level 1.

  • Bertanya, konsultasi, dan meng-copy orang-orang di level 1.

Jika anda melakukannya, anda akan tetap di level 1 dan tidak berkembang secara signifikan.

Cara yang lebih logis adalah belajar pada orang-orang level 2, orang ini sudah berhasil melewati level 1. Bila anda belajar dari orang-orang level 2, anda akan lebih cepat belajar cara yang benar, memperpendek waktu belajar, mencapai sukses, serta naik ke level 2 dengan lebih cepat. Lebih baik berkembang secara vertical (dari level 1 ke level 2) daripada horizontal.


Masuk akal? Benarkan?

Salah!!!

Kenapa??

  • Karena mereka masih berjuang di level 2, mereka belum menenemukan sukses di level 2. Mereka dapat menasehati untuk sukses di level 1 tapi belum menemukan metode yang benar di level 2.

  • Bila anda berkembang ke level 2, mungkin mereka (orang-orang di level 2) merasa terancam akan kehadiran anda!!!

Ini yang membuat mereka enggan membantu/mengajar anda.


Jadi??

Satu solusi terbaik dan paling effektif adalah mencari bantuan dari orang-orang yang sudah berada di level 3. Mereka yang paling ideal untuk dapat membantu anda.!!!

Masuk akal?

Makanya, yang harus kita lakukan:

  • Di level berapa anda sekarang?

  • Siapa orang level 3 yang sudah anda kenal?

  • Bertemankah dengan mereka?

  • Bila tidak, anda harus berteman dengannya.

  • Minta nasihat dari mereka?

  • Pelajari rahasianya, dan implementasikan dengan cepat!

  • Update kemajuan anda pada teman anda tadi secara kontinu!

  • Bila menemukan masalah, minta nasihat mereka secara kontinu!

  • Setelah anda berhasil, beritahu mereka!


Teruslah berkembang secara vertical….

Setelah berada di level 2, apakah anda akan mencari nasihat dari teman anda di level 2 dan level 3?

Tidak!!!

Cari orang level 4 agar anda dapat tetap berkembang secara vertical ke level 3.


Pelajaran yang anda dapat…..

  • Anda mungkin harus mengganti “mengganti” teman-teman ngobrol yang sekarang. Mereka adalah teman-teman anda yang baik, tetapi maaf, mereka mungkin bukanlah teman yang tepat untuk membantu anda agar dapat berkembang secara vertical.

  • Anda perlu berteman dengan orang-orang dua level di atas anda. Kemungkinan, awalnya akan terasa tidak nyaman bergaul dengan mereka karena anda merasa lebih rendah. Tetapi orang-orang inilah yang akan membantu anda untuk berkembang.


Jadi, tetap merasa nyaman, tapi tidak berkembang,

Atau

Keluar dari zona aman anda sekarang dan teruslah berkembang secara vertical..


Pilihan ada di tangan anda sendiri !!!!


CHANGE & IMPROVE VERTICALLY


taken from http://mamanzone.blogspot.com/

Label:

Rabu, 27 Juli 2011

Mental Pengusaha

bagus bgt nih utk di share untuk yg mau wirausaha... taken from twitnya @AidilAkbar
#MentalPengusaha #wiRABUsaha

#Menta
lPengusaha 1. Result oriented, hasil akhir dan prestasi #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope

#MentalPengusaha 2: Asset Growth, bagaimana caranya agar aset & usaha saya berkembang dan besar #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope


#MentalPengusaha 3: Mau melakukan apapun sendiri alias Mandiri, bs mengatur usaha n waktu sendiri #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope


#MentalPengusaha 4: Disiplin tingkat tinggi dalam hal apapun #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope


#MentalPengusaha 5: Manajemen waktu yg bagus, tidak membuang2 waktu utk hal sepele & tidak berguna #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope


#MentalPengusaha 6: Selalu melihat dan mencari peluang baru #wiRABUsaha 1 wk ago via UberSocial for BlackBerry


#MentalPengusaha 7: Mampu memotivasi diri sendiri, plus motivasi orang lain #wiRABUsaha 1 wk ago via UberSocial for BlackBerry

#MentalPengusaha 8: Punya tingkat kreativitas yang tinggi #wiRABUsaha 1 wk ago via UberSocial for BlackBerry


#MentalPengusaha 9: Leadership leadership leadership, wajib punya karakter pemimpin #wiRABUsaha 1 wk ago via UberSocial for BlackBerry


#MentalPengusaha 10: Ngak takut sama resiko, apalagi resiko bisnis, dah biasa itu #wiRABUsaha 1 wk ago via UberSocial for BlackBerry


#MentalPengusaha 11: Decision, berani ambil keputusan, apalagi disaat genting #wiRABUsaha 1 wk ago via UberSocial for BlackBerry


#MentalPengusaha 12: Jadilah "petarung" ,siap utk bertarung di pasar & jenis usaha yg kita pilih #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope


#MentalPengusaha 13: Berwawasan luas & update, makanya baca tuh internet/koran/majalah ekonomi&politik #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope

#MentalPengusaha 14: Selalu ingin belajar hal-hal baru #wiRABUsaha 1 wk ago via SocialScope

Label: , ,

Senin, 04 Juli 2011

new atmosphere

masuk minggu ke 3 masih bengong2 aja di ktr baru.. berasa aneh bgt, ditempat lama sibuknya parah.. trus pengen santai ditempat baru, malah kelewat santai gini.. tautau tar di cut lg... arggggghhh ngeri, trus anak bini mo di kasih makan apa? (kaya dah ada aja hehe)



eniwei pulang sampe rumah gw makan tahu n denger cerita nyokap tentang tukang jualan tahu tsb, seorang ibu yg jualan keliling terpaksa karena suami stroke n anaknya cacat... trus gw juga inget tukang ikan presto asli sukabumi, tinggal di sukabumi, n jualan ikannya keliling bintaro, omaigot... ritme kerjanya : habis sholat isya brangkat dari sukabumi naik bis ke ciputat.. sampe ciputat jam 3 pagi, tidur dulu sebentar diteras toko sambil menunggu subuh, abis subuh lanjut dagang, daerah jajahannya tiap hari beda2 tapi ga jauh2 dari ciputat n bintaro, setelah dagang jam sepuluh pulang lagi ke sukabumi, sampe sukabumi sore, dan abis isya berangkat lagi ke ciputat, rutinitas yg benar2 melelahkan, kesehariannya cuma tidur di bus.. ketika ditanya kenapa gak ngontrak di ciputat aja, beliau cerita kalau dagangannya hasil olahan istrinya di sukabumi dan juga beliau mesti merawat ibunya yg stroke... cerita2 yg menyayat hati... harusnya gw bersyukur masih kerja, masih nafas, masih sehat dan keluarga juga sehat.. Alhamdulillah atas semua

Label:

Jumat, 14 Januari 2011

Sail Away



Pagi itu di sebuah dermaga pelabuhan, sedang terburu-buru untuk mengejar sebuah kapal yg akan segera berlayar, kapal yg lumayan lebih besar dari kapal lain yg pernah ditumpangi. Berlari dan terus berlari di sepanjang dermaga, sepertinya sudah tidak ada pikiran lain di kepala, selain hanya bagaimana caranya naik kapal tersebut. Entahlah mengapa keinginan untuk berlayar di kapal yg lebih besar selalu terbesit dalam benak ini, mungkin sudah terlalu lelah karena selalu gagal untuk ikut kapal-kapal sebelumnya. Benar benar emosi mengalahkan logika, sedikit melupakan konsekuensi yg harus diterima, harus rela untuk meninggalkan sejumlah nominal yg sebentar lagi diterima. Mungkin sudah jalannya seperti ini, harus ada pengorbanan, dan semoga saja pengorbanan ini tak sia-sia. Ada harapan besar akan ada banyak hal yg menyenangkan diperjalanan nanti.. semoga saja

Label: ,

Jumat, 15 Oktober 2010

COPY PASTE


Abis baca blog yang bagus banget, cuma gak perlu dishare or link ke web mana. Tulisan agak sedikit 'menyentil' kebiasaan para blogger yg suka copy paste. Menurutnya cuma sedikit orang yg benar2 ahli dalam suatu hal, sisanya cuma copy paste. Trus komen2 nya di blog tsb juga seperti mengiyakan , ada yg ikut mengatakan 'cuma ditambahin bumbu, lantas diedit sedemikian rupa, jadi tulisan baru'.

Entah bingung jadinya, antara setuju atau tidak setuju. Satu hal yang namanya hak cipta itu penting, hasil kerja keras orang lain itu wajib dihargai, penulisan bukan sembarang nulis, mungkin beberapa bulan sebelumnya sudah riset, penelitian n bla bla bla, belum lagi adegan merangkai kata yg beberapa kali mesti diedit. Huh kasihan banget kalo gak beberapa lama setelah tulisan diposting, trus ada tulisan serupa yg mungkin cuma beda dikit kata-katanya, parahnya lagi tulisan kedua ini gak menuliskan dari mana sumber tulisan tersebut, bener bener kelewatan.

Cuma ane juga bingung, kreatifitas orang itu kan beda2, ga setiap orang juga mau meluangkan waktu untuk buat tulisan di blog. kalo emang mesti hasil sendiri nanti jumlah blog bisa dipastikan ya cuma sedikit. Ane juga menyadari awalnya juga cuma posting hasil copy paste. Sudah menjadi hal yang umum ketika kita butuh informasi search engine digunakan sebagai solusi, setelah artikel didapat biasanya artikel tersebut ane save, untuk memudahkan biasanya ane masukkin tuh di blog ane, biasanya apa adanya yg gw posting n tetap ane tulis sumbernya darimana, Awalnya sih ya untuk pribadi, cuma ga ada salahnya juga kita share artikel tsb yg mungkin juga berguna untuk yg lain. Ane kira blogger lain mungkin juga seperti itu, sebab suka ane baca isi blog tentang suatu masalah trus kemudian mereka "gugling" dan hasil yg mereka peroleh itu mereka share dengan ditambah beberapa kata-kata dari mereka.

Sedikit informasi tentang SEO yg sedang booming, SEO (Search Engine Optimization ) teknik yg digunakan agar suatu halaman suatu situs atau blog masuk peringkat paling tinggi dalam suatu search engine, pernah ane baca, ada algoritmanya segala. Peringkat paling tinggi akan muncul paling atas pada result yg kita cari, dan biasanya akan dibuka atau dibaca, semakin sering dibuka peringkat akan makin tinggi, dan kemungkinan orang utk klik iklan di artikelnya tsb makin besar. Semakin banyak yg "ngeklik" iklannya semakin banyak juga pundi-pundi pendapatannya.

SEO menurut ane jadi salah satu pemicu copy paste. Blogger yg serakah mungkin akan membabi buta utk copy paste berbagai macam artikel tentang hal-hal yg sedang banyak dicari , parahnya copy paste yg ini ga lengkap, informasinya ga detail, yg penting keyword nya ada. Menjengkelkan banget ketika kita butuh suatu informasi ,dan setelah kita "gugling" ternyata resultnya link2 yg mengarah pada page yg isinya cuma keyword, sedikit info dan iklan yg banyaknya melebihi informasinya.. huhhh..

Menurut ane, copy paste sih boleh-boleh aja asalkan yg dikutip itu benar sehingga informasi yg didapat lengkap dan sesuai tujuannya, selain itu kita juga harus mencantumkan sumbernya dari mana untuk menghargai pemiliknya, mungkin tulisan dengan gaya bahasa yg berberbeda dapat lebih dimengerti oleh orang yg berbeda kalangan atau usia. Semua orang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga blog seharusnya dijadikan media untuk sharing, saling membantu utk berbagi sesuatu yg kita miliki dengan yg lainnya. Ga perlulah kita menganggap diri kita lebih "ahli" dari yg lain, kata orang bijak "diatas langit masih ada langit", perasaan "lebih" itu justru membuat kita kurang menghargai orang lain dan pastinya lama kelamaan orang lain juga jadi malas utk baca blog tsb..

Label: ,

Senin, 11 Oktober 2010

8 "P" yang Bikin Pelanggan Setia



Jumat, 1/10/2010 | 12:16 WIB
KOMPAS.com - Pelanggan adalah raja. Ujar-ujar tersebut tidak salah. Karena karena merekalah usaha pebisnis bisa terus hidup dan berjalan. Maka dari itu, ada baiknya para pebisnis mengtahui apa yang penting dan diinginkan oleh para pelanggan. Berikut adalah paparan Cyltamia Irawan, penulis buku Secangkir Kopi untuk Sahabat Customer dan CEO lembaga konsultan Lentera mengenai 8 hal yang diinginkan pelanggan

1. Product Apa yang akan Anda jual? Produk atau jasa apa? Apakah hal tersebut memiliki keunikan? Apa bedanya dengan produk pesaing? Jika produk Anda sama saja dengan produk yang sudah ada dan tidak ada keistimewaan, orang sulit untuk mengenal Anda atau mau pindah dari tempat sebelumnya.

2. Price
Berapa harga yang ditawarkan? Ketahuilah, pelanggan pasti akan mencari harga yang lebih murah jika pelayanan, kualitas, dan produk yang ditawarkan sama saja. "Perbedaan harga itu penting. Jika Anda menjual produk seharga Rp 10.000 dan pesaing menjual dengan harga Rp 9.999, pasti akan berpengaruh. Tetapi jangan lalu jadi membiarkan terjadi persaingan harga terus menerus," jelas perempuan yang sering dipanggil dengan nama Tami ini di acara Beautifying Indonesia, Martha Tilaar Group beberapa waktu lalu di Jakarta Convention Center.

3. Place
Dimana dan channel apa yang digunakan? Lokasi strategis dan kemudahan akses akan menjadi hal penting dan menyenangkan bagi pelanggan.

4. Promotion
Ketahui apa yang kira-kira akan membuat pelanggan bergairah untuk membeli barang Anda? Gimmick promosi akan menjadi hal yang menyenangkan bagi pelanggan. Pelanggan tentu akan menghitung value yang bisa ia dapatkan dari harga yang ia keluarkan.

5. Process
Seperti apa pelayanan Anda? Misal, jika Anda pemilik salon yang menyediakan pelayanan creambath yang urutan umumnya sudah jelas, tentu pelanggan yang datang ke tempat Anda juga mengharapkan proses pelayanan yang jelas dan memuaskan, kan? Pelanggan pasti kesal jika ternyata urutannya berantakan dan malah bikin pusing.

6. People Siapa yang akan mengurus saya sebagai pelanggan? Bayangkan diri Anda sebagai pelanggan di sebuah salon. Tidakkah Anda akan mengharap bahwa orang yang mengurus Anda adalah orang yang kompeten, ramah, dan mengutamakan kenyamanan Anda? Sama seperti itu pula pelanggan lain mengharapkan pelayanan yang akan ia dapatkan .

7. Pace
Waktu adalah hal yang penting. Apalagi saat seperti sekarang ini. Pelanggan butuh pelayanan yang cepat. Siapa yang mau menunggu lama untuk dilayani? Penuhi kebutuhan pelanggan dengan waktu yang singkat.

8. Proof "Pelanggan adalah iklan berjalan!" ujar Tami. Tak percaya? Coba ingat-ingat, jika Anda pernah mengalami sebuah pengalaman pelayanan atau produk yang menyenangkan dan baik, tidakkah Anda akan merekomendasikan kepada orang lain? Pelanggan butuh bukti. Saat mereka terpuaskan, niscaya ia akan bawa orang lain ke tempat itu.

Label: , ,

Sabtu, 02 Oktober 2010

Surprise


Surprise.... tadi waktu dateng ke resepsi teman dapat gift gitu dari temen yg married, kata MC nya "untuk yang nyomblangin.." , hahaha.. lumayan jadi bonus tambahan nih, karena sebelumnya mereka udah suka ajak makan juga hihihi.. Iseng ngenalin ternyata mereka berjodoh, hal sepele tapi ternyata berarti buat mereka, ternyata tak perlu pengorbanan besar untuk memberi kebahagiaan orang di sekitar kita..

Semoga Rahma yg sedikit bawel semoga bisa saling mengisi dengan Yudi yg adem ayem.. Semoga menjadi rumah tangga yg Sakinah Mawadah Warahmah dan tentunya bisa langgeng sampe kakek nenek.. aminnn...

Thanks ya ma, thanks yud for the gift.. meski malu gw tadi waktu MC bilang "Buruan.. jgn cuma sibuk nyomblangin, tar stoknya abis.." hahaha.. au ah doain aja cepet nyusul.. aminnn ya Rab

Label: ,

Senin, 27 September 2010

kampus


Sesuatu hal membuat gw pergi ke kampus, sesuatu hal juga membuat gw mampir ke tukang fotocopy dekat kampus, ada kejadian yg bikin gw ribet di tempat fotocopy setelah seorang ibu selesai melayani fotocopy.

Me : "Berapa bu ?"
Bu FC : "Lima ratus mas"Sesaat gw bayar dengan uang sepuluh ribuan
Bu FC : "Gak ada kembalinya mas"
Me : "Saya juga ga ada receh bu"
Bu FC : "Ya udah nanti aja mas"
Me : "Saya udah mau pulang bu"
Bu FC : "Ya udah besok aja mas"
Me : "Saya udah gak kuliah bu, gak tau kapan kesini lagi"
Bu FC : "Ya udah gak usah gak apa apa"
Terpaksa nih obrak abrik tas sama dompet tuk cari recehan.. parahnya ga ada juga..
Me : "Ya gak ada juga nih bu"Bu FC : "Gak apa apa kok mas"
Me : "Waduh,, makasih nih bu"

Nyesel bgt knp gak di rumah aja nanti fotocopynya, sempet terlintas dipikiran untuk beli makan or minum, tapi males banget sendirian. Seandainya saja kejadian ini pas dulu kuliah, pasti gak susah utk cari pinjeman uang recehan, dulu masih banyak temen trus juga maklumlah mahasiswa dompet isinya recehan hahaha... temen2 gw sekarang pd kemana y, mungkin ada beberapa yg masih suka say "hi" di situs pertemanan, trus yg lain pada kemana... miss u all




Label: ,

Life style


Baca salah satu artikel life style di suatu situs berita, trus ada yang kasih komen sadis, "cuma gaji pengemis, gaya hidup borjuis"
Astagfirullah.. moga2 ane bukan orang seperti itu

Label:

Kamis, 23 September 2010

Hujan2


Sore hari sambil nunggu hujan reda, makan pangsit dulu depan kantor, saat kita makan, tukang pangsitnya bercerita, dulu dia pernah hujan2 dorong gerobak ga terasa air matanya netes, waktu ditanya alasannya kenapa ?, dia jawab "kok hidup begini banget".

Setelah menunggu sekian lama hujan ga juga reda. So akhirnya terpaksa pulang gerimis2an, seperti biasa hujan dan genangan air bikin macet gila2an. Di tengah kemacetan terlihat seorang ibu yg menjadi kenek metro mini, badannya lepek, dan mukanya keliatan capek banget.

Sepertinya di luar sana masih banyak orang yg dalam tugasnya hujan2an, tapi kenapa juga yg cuma kehujanan pas perjalanan pulang ngeluhnya setengah mati.. mungkin kita perlu introspeksi.

Label:

Kamis, 01 April 2010

Kisah Sukses TIP TOP Swalayan


Saya lahir pada tahun 1933, di Padang, Sumatera Barat. Alhamdulillah sejak kecil orang tua mendidik saya dengan ajaran Islam yang ketat. Ayah saya berlatar pedagang. Sejak saya kecil, ia juga mendidik saya untuk berdagang. Sekaligus mengajarkan akhlaq berdagang.

Suatu saat tanpa disadari, ayah saya kurang mengembalikan uang pembeli. Tetapi pembeli itu diam saja dan berlalu. Lekas dipanggilnya orang itu. Sewaktu saya bertanya mengapa dikembalikan sisa uangnya sedangkan orang itu tidak tahu. Ayah menjawab, Allah Maha Tahu. Sikap demikian akhirnya tertanam dalam hati nurani saya.


Sewaktu baru berumur 11 tahun, saya sudah diberinya sejumlah uang. “Kamu mau dagang apa, terserah,” ujarnya lembut. Setiap pulang “berdagang”, saya melaporkan pendapatan saya. “Berapa kamu dapat ? Bagus,” pujinya. Waktu itu saya berinisiatif menjual kelapa. Dengan menggunakan gerobak, saya membeli kelapa di rumah penduduk, dan menjualnya ke pasar dengan jarak tempuh sampai 10 km.


Tapi ayah tetap mengutamakan pendidikan formal. “Jangan tinggalkan sekolah.”itu selalu ia tekankan. Lulus SMA saya meneruskan studi ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Setelah lulus, saya bekerja sebagai Direktur BPD. Saya sudah bertekad, suatu saat harus mandiri. Setelah tujuh tahun bekerja di BPD, saya menolak diperpanjang masa jabatan. Saya merasa inilah titik awal permulaan usaha saya. Saya mesti berdiri di atas kaki sendiri.


Maka sejak 1967, saya mulai menekuni berbagai bidang usaha. Hingga sepuluh tahun kemudian, sewaktu mencoba bisnis properti kecil-kecilan, saya sadar, usaha itu sudah tidak bisa lagi saya kembangkan.


Lalu pada tahun 1978, saya memutuskan keliling Eropa, melakukan “studi banding”, apa sih yang sebaiknya saya kembangkan. Akhirnya saya menemukan, yang pokok diperlukan manusia itu sandang dan pangan. Ternyata siapa yang bergerak di bidang itu, asalkan mempraktekkan teori-teori yang benar, dapat berkembang.

Pada tahun 1979, mulailah saya membuka TIP TOP di Rawamangun. Waktu itu hanya toko kecil, semacam mini market. Saya memulai dari bawah, dari nol. Luas lantainya hanya 400 M2. Saya juga pergi ke pasar-pasar tradisional membeli bawang, cabai langsung sama mbok-mbok penjualnya. Ini berlangsung sekitar dua tahun. Bagi saya ini banyak hikmahnya, saya jadi tahu perputaran arus barang mulai dari bawah.

Sejak awal saya sudah mematok mini market itu harus berdasarkan prinsip-prinsip Islami. Bukan hanya tidak menjual daging babi dan minuman keras, tetapi saya juga selektif memilih barang. Misalnya daging sapi atau ayam, kalau harganya terlalu murah, atau tidak jelas memotongnya Islami atau tidak, saya tolak. Bagi saya justru nmencurigakan kalau harganya terlalu murah, dari mana dapat daging itu? Jadi barang-barang yang tidak jelas asal usulnya tak mau saya terima. Saya juga perlu melihat langsung tempat pemotongan hewannya.Saya berusaha memprotect, agar hanya barang yang halal dan thoyyib saja yang dijual.

Saya juga mencoba mengikuti bagaimana nabi berdagang, tentunya sepanjang yang saya ketahui. Nabi Muhammad berdagang sesuai dengan hati nuraninya, tidak mau menipu, mencelakakan atau menganiaya orang. Ini saya coba terapkan. Bagi saya kalau sudah cukup untung 2 sampai 3 % jangan mengambil 5 atau 10 %. Setahu saya prinsip dalam Islam itu, carilah pendapatan secukupnya untuk dirimu. Jadi walaupun barangnya halal, tapi kalau harganya mahal, bagi saya tidak baik, dan tidak Islami juga jadinya.

Ternyata dasar Islami ini mendapat respon positif dari masyarakat. Tip Top mendapat sambutan di luar dugaan saya. Perkembangannya demikian cepat, bagaikan air bah saja. Lahan seluas 400 M2 itu tidak mencukupi. Tiap tahun saya harus memperluas , dengan membongkar bagian rumah saya di samping mini market. Tahun 1985, Tip Top sudah berubah jadi Pasar Swalayan, dengan luas 3000 M2 dan kenaikan penjualan 20 hingga 30 kali lipat.

Berdasarkan pemantauan kami, pelanggannya tidak hanya yang tinggal di Rawamangun saja, tapi meluas hampir di seluruh Jakarta Timur. Saya merasa ini tak lain karena ridlo Allah. Dengan kesadaran ini, saya semakin takut untuk keluar dari jalur Islami. Tawaran dari supplier barang yang tidak Islami, misalnya minuman keras, bukannya tidak ada. Bahkan fasilitasnya mudah dan keuntungannya besar. Saya tetap menolak semuanya.

Hingga pada Juni 1991, Allah menguji saya. Kebakaran besar tiba-tiba menimpa Tip Top.Semuanya habis terbakar. Inventaris, stok-stok barang, gedung, ludes terbakar semuanya. Tak ada lagi yang tersisa. Hingga menjelang shubuh, api yang mengamuk sejak jam satu malam masih berkobar. Pemadam kebakaran boleh dibilang minim bantuannya, karena sedang terjadi kebakaran juga di Jatinegara.

Sewaktu melihat api yang menjilat-jilat itu, saya sempat berfikir, apakah ini hukuman atau cobaan dari Allah. Bagi saya, kalaupun ini hukuman, saya tetap bersyukur. Berarti Allah masih berkenan memperingatkan saya dan masih memberi kesempatan saya memperbaiki diri. Sewaktu api masih mengganas, saya pulang untuk sholat shubuh. Setelah sholat, rasanya muncul cahaya, bahwa ternyata itu bukan hukuman. Tapi cobaan dari Allah. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa pada waktu itu saya dicoba.


Pagi hari para karyawan berdatangan. Tak pelak lagi mereka terkejut, sedih, bahkan menangis. Saya hadapi mereka, saya sampaikan apa yang saya yakini. Bahwa kita sedang dicoba oleh Allah, apakah mampu atau tidak kita melewatinya. Kalau mampu, kita akan “naik kelas”. Kalau tidak, malah akan ditutup segala pintu rizki oleh Allah. Sayapun sudah bertekad, harus bangkit kembali.


Setelah musibah itu, tanpa saya duga sama sekali, pihak Pemda meminta Tip Top harus berdiri kembali. Jam sepuluh pagi sesudah kebakaran itu, mereka bilang,”Kalau perlu buka saja disini(areal Pemda-red). Kalau pun mau membangun kembali di tempat lama, apa kesulitannya, kami yang akan urus.” Saya sangat terharu. Rasaya mereka kok lebih berkepentingan daripada kami.


Wakil Gubernur saat itu menanyakan, berapa karyawan yang teraniaya akibat kebakaran itu. Saat itu ada sekitar 200 karyawan yang menggantungkan hidupnya pada Tip Top. Ternyata ia menyampaikan, mereka akan disantuni Pemerintah DKI. “Kalau soal ijin dan lainnya, saudara tidak usah khawatirkan. Pemerintah DKI akan berada di belakang saudara.” ujarnya pada saya. Itu suatu support luar biasa yang sama sekali tidak saya duga sebelumnya. Tambah kuat keyakinan saya bahwa ini cobaan dari Allah. Masalah-masalah setelah kebakaran rasanya dimudahkan saja oleh-Nya.


Hal lain yang juga di luar dugaan saya, adalah mudahnya saya memperoleh pinjaman dalam jumlah sangat besar, buat membangun kembali Tip Top. Pertolongan-pertolongan yang tidak disangka sama sekali, ternyata saya dapatkan dengan mudah. Saya pikir itulah kehendak Allah. Sebagai manusia, saya dengan sendirinya sangat terharu dengan karunia Allah ini.


Sekitar dua minggu kemudian, Tip Top dibangun kembali. Di areal lama. Bulan September, separoh dari supermarket sudah dapat dibuka kembali. Saat itu hutang saya kepada supplier mencapai dua milyar lebih. Tapi, Alhamdulillaah, mereka tetap percaya kepada kami. Walaupun hutang itu belum bisa dibayar, mereka tetap mensuplai kami dengan barang-barang baru.


Pada Februari 1992, keadaan kembali seperti semula,. Setelah enam bulan sebelumnya kami bekerja siang dan malam. Dengan sendirinya kami mengalami berbagai pembaharuan. Bergerak dengan semangat, kemampuan, situasi serta keadaan yang baru. Ternyata para pelanggan juga tidak meninggalkan kami. Akhirnya, masih pada tahun 1992 itu, semua hutang saya pada supplier sudah bisa terbayar. Suatu hal yamg tak saya sangka. Saat itu kembali saya disadarkan, kalau Allah berkenan memberi rizki, dengan mudah saja Ia berikan.


Pada tahun 1992, seseorang tiba-tiba menawarkan sebidang tanah seluas dua hektar di Bogor. Awalnya, saya sempat pikir-pikir, apa gunanya. Tapi kembali saya merenung, barangkali Allah mau menguji saya, mampukah saya mengambil manfaat dari tawaran tanah itu. Akhirnya tanah itu saya beli. Pada tahun 1993 saya dirikan Panti Yatim Piatu.

Pada tahun itu pula saya dapat membuka cabang. Padahal, terus terang, saya juga tidak tahu dari mana uangnya. Saya juga heran, kok bisa. Padahal baru dua tahun saya terkena musibah. Agaknya itu yang Allah janjikan, kalau engkau dekat dengan-Ku, Aku lebih dekat. Ternyata cabang Tip Top itu pesat perkembangannya. Pada tahun 1999 kami membuka cabang di kawasan Tangerang. Insya Allah pada tahun 2001 kami akan membuka satu atau dua cabang lagi. Di setiap cabang itu, kami tetap menegakkan prinsip awal, yaitu supermarket berjiwa Islami.

Terhadap suppiler dan pembeli, sikap jujur tetap saya utamakan. Itu merupakan modal pokok usaha. Supplier mensuply barang puluhan milyar. Bagaimana mungkin mereka percaya, kalau saya tidak jujur. Pernah pula datang seorang pembeli yang mengeluhkan harga barang kami. Menurutnya, ternyata di tempat lain, ada barang serupa dengan harga lebih murah. Boleh jadi kami tertipu, “tertidur” atau pedagang lain berusaha men-cut prinsip kami. Setelah kami cek dan benar harga di sana lebih murah, kami kembalikan selisih harganya kepada pembeli itu.

Kini, kami mulai mempunyai anak-anak angkat, mereka ingin bergerak di bidang usaha ini tapi tidak tahu caranya. Mereka kami bimbing, tanpa memperhatikan unsur komersialnya. Kalau sudah berkembang, kami lepas. Sekarang sudah ada beberapa yang sudah bisa dilepas. Bahkan sudah membuka cabang-cabang mini marketnya.

Kami berusaha tetap eksis di Indoensia ini. Tentunya nanti akan lebih banyak lagi ”serbuan” pesaing yang masuk, setelah AFTA 2003. Tapi, insya Allah kami bisa menghadapi itu. Dan saya yakin seyakin-yakinnya, Allah akan melindungi usaha-usaha yang diridloi-Nya.

Ke depannya, cita-cita saya, saya sangat ingin membuka supermarket di dekat Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Sekali lagi, saya sangat bersyukur, orang tua menganut Islam yang baik dan mengupayakan saya demikian juga. Yang saya sayangkan mereka keburu berpulang, dan belum sempat menikmati hasil kerja keras dan rizki Allah pada saya. Saya belum sempat menyenangkan mereka. Tapi Allah sudah memutuskan. Saya hanya bisa berdoa, mudah-mudahkan mereka mendapat tempat layak di sisi-Nya.

Kini, saya mempunyai generasi penerus, putra-putri saya. Insya Allah usaha ini akan jatuh ke tangan yang benar. Jangan sampai goyah membawa prinsip Islam dalam perjalanan selanjutnya. Saya optimis, Insya Allah, usaha-usaha apapun, termasuk swalayan yang berada dalam koridor Islam, akan dapat berkembang terus.

Seperti dikisahkan Bapak Rusman Maamoer, pendiri Swalayan Tip Top, kepada Tarbawi.

Majalah Tarbawi Edisi 16 Th 2/31 Januari 2001 M / Syawal 1421 H

Taken from : http://www.pengusahamuslim.com/kewirausahaan/profil-dan-sharing-pengusaha-muslim/487-kisah-sukses-tip-top-swalayan.html

Label:

Rabu, 10 Februari 2010

Think and Thank


Rasanya kita semua tidak kenal dengan orang yang bernama Jean-Dominique
Bauby, kecuali Anda perempuan dan berbahasa Perancis atau suka membaca
majalah bernama Elle. Ia pemimpin redaksi Elle.
Tahun 1996 ia meninggal dalam usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoarnya
yang "ditulisnya" secara sangat istimewa dan diberinya judul Le Scaphandre
et le Papillon (The Bubble and the Butterfly).

Tahun 1995 ia terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh.
Ia mengalami apa yang disebut 'locked-in syndrome', kelumpuhan total yang
disebutnya 'seperti pikiran di dalam botol'.
Memang ia masih dapat berpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa
berbicara maupun bergerak.
Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya.
Jadi itulah caranya berkomunikasi dengan para perawatnya, dokter rumah
sakit, keluarga dan temannya.

Mereka menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip bila huruf
yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya. "Bukan main", kata Anda.
Ya, itu juga reaksi semua yang membaca kisahnya.

Buat kita, kegiatan menulis mungkin sepele dan menjadi hal yang biasa.
Namun, kalau kita disuruh "menulis" dengan cara si Jean, barangkali kita
harus menangis dulu berhari-hari.

Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup maupun kemauannya untuk tetap
menulis dan membagikan kisah hidupnya yang begitu luar biasa.
Ia meninggal 3 hari setelah bukunya diterbitkan.
Jadi, "Berapapun problem dan stress dan beban hidup kita semua, hampir tidak
ada artinya dibandingkan dengan si Jean!"

Apa yang a.l.. ditulisnya di memoarnya itu?
"I would be the happiest man in the world if I could just properly swallow
the saliva that permanently invades my mouth".

Bayangkan, menelan ludah pun ia tak mampu :-(.
Jadi kita yang masih bisa makan bakmi, ngga usahlah Bakmi Gajah Mada,
indomie yang Rp3.500 saja, seharusnya sudah berbahagia 100 kali lipat
dibanding si Jean.Kita bahkan senantiasa mengeluh, setiap hari, sepanjang tahun.

We are the constant whiners.

Apa lagi yang dikerjakan Jean di dalam kelumpuhan totalnya selain menulis
buku?
Ia mendirikan suatu asosiasi penderita 'locked-in syndrome' untuk membantu
keluarga penderita.
Ia juga menjadi "bintang film" alias memegang peran di dalam suatu film yang
dibuat TV Perancis yang menceritakan kisahnya. Ia merencanakan buku lainnya
setelah ia selesai menulis yang pertama.
Pokoknya ia hidup seperti yang dikehendaki

to celebrate life, to do something good for others.
(Untuk merayakan kehidupan, untuk melakukan kebaikan bagi orang lain)

Jadi, betapapun kemelutnya keadaan kita saat ini, mereka yang sedang stress
berat, mereka yang sedang berkelahi baik dengan diri sendiri maupun melawan
orang lain atau anggota keluarga, mereka yang sedang tidak bahagia karena
kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi, mereka yang jalannya masih
terpincang-pincang karena baru saja terinjak paku, mereka yang sedang
di-PHK, Saya yakin kita masih bisa menelan ludah.

Semoga kita semua tidak terus menjadi whiner, pengeluh abadi, manusia yang
sukar puas.

Kata orang bijak, "Think and Thank", berfikirlah dan kemudian bersyukurlah.

taken from milis

Label:

Senin, 04 Januari 2010

Happy Nu Year 2010


Everything can be happen in 2010, everything happen for a reason, hope for better in everyreason..

Begitulah message yg biasa gw tulis dari tahun ke tahun, begitu mulu isinya cuma tinggal rubah tahunnya aja hahahaha..., lumayanlah buat seseruan aja menyambut tahun baru, Kadang ada beberapa orang yg menganggap keramaian tahun baru tuh cuma hura-hura aja, mungkin ada benarnya juga, karena banyak yg merayakan secara berlebihan.

Kalo gw sih mending ambil positive nya aja,
tahun baru ya berarti harapan baru aja, selalu inget untuk berusaha untuk lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. (maklumlah tahun 2009 ada beberapa hal yang buat gw kecewa banget, tapi ada juga hal-hal tak terduga yang bikin surprise)

Tapi kenapa ya turning pointnya pas tahun baru??
Ya kalo gw pikir itu cuma perayaannya aja, momentnya pas liburan, pas perusahaan2 tutup buku, pas mall ngadain sale gede-gedean. Kalo secara personal pastilah tiap hari juga selalu berusaha untuk lebih baik.. Hari ini, esok dan hari-hari berikutnya sebenarnya sama saja seperti kemarin tinggal bagaimana kita mewarnai dan memaknainya..

Selamat tahun baru 2010. sukses n sehat selalu...

Label: , ,

Everything happen for a reason

Challenger_liftoff_(STST-51-L)


Semua dimulai sebagai impian, aku ingin menjadi seorang astronot, aku ingin terbang ke luar angkasa. Tapi aku tidak memiliki “hal yang tepat”, aku tidak memiliki gelar, dan aku bukan seorang pilot. Lalu terjadilah! Gedung putih mengumumkan pencarian warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang alik challenger, dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa dan aku seorang guru. Pada hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan! Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku!

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA melakukan test fisik dan mental. Saat tes selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Aku akhirnya menerima panggilan yang telah lama kudambakan dan kumohon dalam doa. NASA memilihku untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center. Dari 43.000 pelamar, manjadi 10.000 orang dan akhirnya aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, eksperimen mabuk udara. Mana di antara kami yang melewati ujian akhir ini? Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, aku berdoa. Aku sangat menginginkannya. Lalu, tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christa McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Depresi, rasa percaya diri lenyap, dan rasa marah menggantikan kebahagiaanku saat aku mempertanyakan semuanya; Kenapa Tuhan, kenapa bukan aku? Bagian diriku mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam? Aku berpaling ke pada ayahku, dia berkata, ” Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran challenger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacuan, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku mau melakukan apa saja agar ada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat challenger meledak, dan menewaskan semua penumpang. Aku ingat kata-kata ayahku, “SEMUA TERJADI KARENA SUATU ALASAN” Aku tidak terpilih untuk penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena rencana Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku dibumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang. Aku menang karena aku telah kalah.

Oleh : Frank Slazak (Sebuah Kisah Nyata)

taken from www.greatstyo.wordpress.com

Label:

Selasa, 21 Juli 2009

Wawancara dengan Bob Sadino

Petikan wawancara dengan Bob Sadino di Kolom Enterpreneur cyberMQ

Bob Sadino, siapa tak kenal tokoh pengusaha sukses ini. Di kalangan pengusaha, ia sudah tenar. Bisnis nya berbagai macam mulai agribisnis sampai properti.

Tapi siapa sangka, hidupnya benar-benar rock and roll, nyaris tanpa rencana. Bob Sadino pernah jadi supir taksi, lalu kuli bangunan, sebelum akhirnya jualan telur ayam, ayam broiler, dan sayuran, lalu punya Kemchick sebagai supermarket, dan Kemfood untuk industri daging olah. Total anak-anaknya (begitu Bob Sadino memberi istilah kepada karyawannya) ada 1600 orang. Ia, bahkan mengaku tidak punya tips atas apa yang orang kira sukses atas dirinya.

Anda pernah bertualang di Eropa. Apa yang Anda lakukan di sana?

Yah, tahun 1964 di Eropa, saya masih banyak main-mainnya, ngabisin uang, karena saya dapat uang warisan, saya habisin di Eropa dan Amerika, jadi bukan untuk keperluan bisnis.

Anda dari keluarga pebisnis?

Tidak ada, keluarga saya tidak ada yang berbisnis. Keluarga saya katakanlah amteenar (pegawai negeri).

Istri Anda bekerja?

Dulu ia di bank Indonesia New York selam 11 tahun. Kemudian memilih pulang ke Indonesia. Saya tidak memilih pulang, saya ketemu ibu pertama kali di Amsterdam. Bergaul beberapa lama, kemudian saya bermaksud untuk menikah. Kebetulan orang tua di Indonesia, ya kita pulang untuk nikah. Jadi pulang ke Indonesia untuk nikah.

Istri Anda ikut?

Istri ikut saya untuk menikah. Ketika saya di indonesia saya masih terikat kerja di Jakarta Lyod dan istri saya masih di BI. Dan ketika saya memutuskan untuk tidak lagi bekerja di Jakarta Lyod, otomatis
istri saya juga keluar dari BI. Saya memilih menjadi supir taksi di tahun pertama. Kemudian saya jadi kuli bangunan di tahun kedua. Sampai tahun 1968 di Jakarta Lyod, tahun 1968-1969 jadi supir taksi, tahun 1969-1970 jadi kuli bangunan.

Dalam arti sebenarnya?

Iya..bukan kuli bangunan tanda petik. Masang plester, pasang batu bata, ubin. Ya kuli bangunan.

Sampai menjadi bisnis?

Saya kan orang yang pertama yang mengenalkan telur untuk bangsa ini, untuk rakyat ini pada tahun 1970. Beberapa minggu kemudian untuk bangsa ini, untuk rakyat ini saya mengenalkan ayam yang Anda kenal saat ini, ayam pedaging. Istilahnya ayam broiler, saya orang pertama yang memperkenalkan itu

Idenya dari mana?

Saya tidak ada ide. Mengalir begitu saja. Saya kirim surat ke negeri Belanda untuk dikirim anak-anak ayam petelor, kemudian beberapa minggu kemudian anak-anak ayam pedaging.

Dapet ide di Belanda?

Dapet idenya malah di Indonesia. Karena saya melihat telur di Indonesia tidak ada yang seperti di negeri Belanda. Anda lihat telur ayam kampung, telur ayam kampung kecil-kecil sedangkan telur yang Anda makan tadi pagi besar. Ada yang warnanya coklat dan putih.

Pasarnya kemana?

Saya dengan ibu menjajakan telur dengan mengetuk pintu rumah orang. Dia bawa 2 kilo saya bawa 3 kilo. Dia ke kiri saya ke kanan. Dan telur saya tidak laku karena berbeda. Mereka hanya tahu telur ayam kampung. Tapi untungnya di Kemang sudah ada warga negara asing sehingga langsung dibeli telurnya dan dari situ bergulir.

Bapak mengemasnya dengan lebih baik.?

Tidak juga. Saya memasukkan ke dalam kantong plastik. Lalu setiap kantong plastik saya berikan setangkai anggrek.

Kemudian bergeraknya kemana?

Bergulir ke ayam. Dari ayam baru ke macam-macam.

Sayuran?

Sayuran belakangan, tahun 1982. Saya adalah orang pertama yang mengenalkan sistem penanaman tanpa tanah, apa yang dikenal dengan hidroponik. Sekaligus saya kenalkan begitu banyak khasanah sayur mayur Eropa dan jenis Jepang untuk Indonesia. Awalnya apa yang saya tanam tidak ada pasarnya. Di mana ada pasar jagung manis? Di mana ada orang menjual jagung manis? Di mana ada orang menjual melon? Dimana ada yang jual terong Jepang? Menjual timun Jepang? Tidak ada. Paprika, dll, juga tidak ada. Jadi saya menciptakan pasarnya..

Ada tipsnya dalam membuka pasar?

Saya tidak pakai tips ! saya berjalan mengalir aja!

Ada edukasi pasar dulu?

Saya tidak tahu. Saya kan tidak pernah sekolah. Saya hanya menciptakan pasar. Saya suruh orang mencoba jagung manis saya, kemudian ada permintaan saya lanjutkan. Begitu juga orang saya suruh coba melon saya, terus dibeli. Dari permintaan ke permintaan begitu terus menerus.
Begitu pasar yang saya ciptakan..

Ada perencanaan, business plan, atau sejenisnya?

Saya adalah orang yang tidak pernah buat perencanaan dalam hidup saya. Dan saya juga tidak pernah buat perencanaan dalam bisnis saya.Itu (business plan) buat orang yang belajar manajemen. Saya tidak pernah belajar manajemen. (Tidak pernah) ngomong bussines plan, marketing, planning, targeting ngomong goals dan lain-lain. Karena saya tidak pernah buat rencana, saya juga tidak pernah punya tujuan. Otomatis, tidak ada rencana, tidak ada tujuan. Otomatis, mengalir saja.

Kalo hidroponik sendiri gimana?

Oh, itu sudah lama. Tahun 1982. Sekarang saya sudah lama tidak berhidroponik. Sekarang orang-orang yang berhidroponik ria. Saya cuma mengurusi pasarnya saja. Ya, pasar yang produksinya dikerjakan orang lain.

Bapak tidak punya kebun sendiri?

Awalnya saya punya. Dengan ekspor yang ribuan ton ke Jepang, saya kerjakan sendiri. Dan sekian banyaknya permintaan sehingga saya tidak punya waktu untuk mengerjakan produksi sendiri. Saya konsentrasi ke pasarannya saja, dan karena pasarnya meminta macam-macam, saya punya pabrik yang memproses bahan baku yang saya proses dari petani-petani lain.

Bagaimana Anda menjaga kualitas?

Apa itu kualitas? Saya hanya memenuhi apa yang pasar syaratkan. Jadi saya tidak ngomong kualitas lagi. Jadi itulah syaratnya apa saya penuhi, terserah syaratnya apa saya penuhi.

Ada kesulitan?

Tentu. Tapi saya tidak bisa ceritakan kesulitan itu. Karena saya menghadapi kesulitan yang bebeda-beda. Kesulitan hari ini berbeda dengan kemarin.

Sekarang Anda ngurusin pemasarannya saja?

Saya tidak ngurus apa-apa, saya sudah 15 tahun nganggur.

Sehari-hari?

Tidak ngapa-ngapain. Saya hanya penganggur. Tapi saya bisa ekspor ribuan ton ke Jepang. Saya punya kemchick sebagai supermarket, kemfood untuk daging olah dan saya punya 1.600 orang yang bekerja di perusahaan saya. Mau ngapain lagi saya? Jadi saya nganggur.

Bagaimana Anda mengelola perusahaan sehingga besar dan eksis?

Saya tidak pernah membicarakan itu, oleh karena itu bergulir dari satu orang ke 1600 orang. Tidak pernah saya bicarakan, tidak pernah saya bicarakan gaya apa? Bagaimana caranya? Itu benar-benar bergulir begitu saja.

Ada proses delegasi?

Perusahaan ini kan sudah 35 tahun. Tahun ke 20 saya bilang Anda aja deh yang urus, saya tidak mau urus lagi. Ya begitu saja.

Mereka orang-orang yang ikut Anda dari bawah?

Tidak ada orang yang saya ambil dari tengah-tengah, kalo pun dari tengah, saya suruh dari bawah lagi. Semua orang diproses dari bawah dulu.

Orang sering menanyakan kunci sukses Anda?

Orang-orang tanya kunci sukses? Memangnya suskes hanya sebuah kunci? Sesederhana itu? Apa yang harus saya katakan kepada mereka? Karena saya mengalir saja. Karena saya bukan pendidik, saya bukan ahli manajemen. Bagaimana saya bisa memberi tahu orang lain? 35 tahun, macam-macam pengalamannya. Saya tidak bisa menceritakan apa-apa karena saya tidak mau mereka menjadi saya. Mereka tidak tahu kepahitan yang harus saya telan. Kalo saya beri nasihat ke mereka, masa saya bilang telanlah kepahitan itu!

Kan mereka bisa belajar dari Anda?

Saya tidak mau karena saya tidak mau merendahkan mereka. Ketika Anda meniru jejak saya, Anda tak lebih dari mesin fotokopi. Saya tidak mau Anda jadi fotokopi saya. Jadilah diri sendiri. Hina sekali Anda jadi fotokopinya Bob Sadino. Kalau ada orang yang bertanya pada saya, saya bilang Ya jalankan saja. Alami saja pengalaman yang Anda alami. Saya tidak mau dia mengalami pengalaman yang saya alami karena bukannya tidak mungkin pengalaman saya selama ini hanya pengalaman pahit. Masa saya hanya membagi pengalaman pahit? Bagi saya, apapun bisa jadi peluang. Orang seperti saya melihat peluang tidak ada batasnya. Batasnya langit, tidak ada batasnya. Tergantung Anda, semua jadi peluang. Jadi mungkin bisa sejuta peluang atau semilyar peluang. Batasnya langit, itulah peluang bagi saya.

Bagaimana dengan risiko?

Saya pengambil risiko. Dan ketika saya mengambil risiko, saya ambil risiko sebesar-besarnya. Saya tidak mau resiko yang kecil. Di saat orang memperkecil risiko, bebas dong, kalo dia mengambil resiko kecil, apa yang dia dapet juga kecil. Semakin kecil risikonya semakin kecil
yang ia dapat.

Maksud Anda, high risk high return?

Makanya saya ambil risiko sebesar-besarnya. Kewajiban saya mengubah risiko itu menjadi sesuatu yang lain. Dengan kata lain, kita ubah menjadi duit. Iya kan? Tapi saya ga nuntut risiko jadi duit. Saya ubah resiko jadi apa saja. Yang mudah bagaimana risiko itu jadi duit. Jadi risiko kecil kalo diubah jadi duit, ya kecil juga dong. Kenapa orang-orang itu memperkecil resiko? Tidak usah dijawab. Saya tidak butuh jawaban, bagi saya aneh kalo orang mengambil risiko kecil.

Anda bilang, sekolah itu menularkan racun. Racunnya apa saja?

Ya itu tadi, karena Anda belajar manajemen, belajar ekonomi yang saya anggap itu racun. Ketika Anda bertanya tentang marketing Anda bingung. Buat saya sederhana, marketing adalah ketika orang minta A ya kasih A. Begitu sederhana saya melihat marketing. Tapi mungkin Anda melihat marketing begini begitu, menghitung ini menghitung itu. Ketika Anda ngitung, Anda sudah ketinggalan pasar. Itulah racun-racun karena Anda sekolah. Untung saya tidak sekolah, kalo saya sekolah saya akan seperti Anda, otak saya akan penuh racun, ha ha. Anda ngomomg tentang manajemen, mana saya tahu tentang manajemen.

Dengan kata lain, Anda bilang, kalau mau usaha, langsung mulai saja?

Ya sudah, tidak usah ngitung-ngitung terus. Ngapain ngitung-ngitung lagi, mulai aja. Kita mau buka suatu usaha, bukan usaha ngitung.

Beberapa bilang, Anda tipe yang sulit ditebak.

Itu karena saya berpikir sederhana. Jadi entrepreneur itu sederhana, karena kesederhanaan itulah orang kadang bingung. Jadi apa, untuk mengerti saya, Anda harus memproses racun di otak Anda. Harus dibuang dulu. Namanya deschooling process. Anda sekolah kan? Sekarang bagaimana anda menghilangkan apa yang Anda dapatkan di sekolah, itulah deschooling process. Dan itu hampir tidak mungkin. Susah sekali. Saya pakai bahasa orang yang tidak sekolah. Saya salah karena tidak punya rencana, itu kacamata Anda. Anda bisa bayangkan ketika saya jualan telor 5 kilo, saya sudah punya rumah sebesar sekarang? Tidak, kan? Jadi buat apa saya punya tujuan. Pertanyaan berikutnya, sekarang ada rumah sebesar ini, mobil di depan, apa dong ini semua? Ini adalah sebuah akibat dari apa yang saya lakukan. Sedangkan yang Anda lakukan hanya menghitung. Akibatnya orang bingung karena yang mereka lakukan hanyalah menghitung, bukan berbuat. Karena orang punya tujuan, orang punya rencana. Tapi ketika tujuan Anda tidak tercapai, rencana Anda juga berantakan. Rencana itu jalannya linier. Dari A, B, C, D sampai Z. Sedangkan mana ada hidup yang bentuknya linier gitu? Dalam hidup bentuknya berkelok-kelok, jarang ada yang lempeng.

Kalau toh sekolah menularkan racun, Anda bisa kasih tahu cara menawarkan
racunnya?

Untuk menghilangkan racun itu, Anda harus pakai cara jalanan dong. Itu yang saya katakan deschooling process. Anda coba buat sesuatu tanpa rencana. Ketika Anda kemarin mau ketemu saya Anda sudah menyiapakn pertanyaan. Jadi kalau pertanyaan pertama tidak terjawab, Anda buyar. Orang ngomong tentang risiko, saya tahu risiko itu apa. Orang diajarkan untuk memperkecil risiko, di mata saya sayang sekali orang yang memperkecil risiko. Tapi di sekolah diajarin pintar, kan? Sedangkan bagi saya, itu bodoh. Karena saya adalah pencari risiko dan saya mengambil risiko sebesar-besarnya. Kenapa Anda harus perkecil risiko itu. Itu sebuah bukti yang Anda pelajari adalah racun. Karena saya sudah membuktikannya. Itu kesimpulannya, kata Bob Sadino, ambil risiko sebesar-besarnya, sedangkan kata guru perkecil risikonya. Saran saya, ambil risiko seutuhnya. Saya tidak bilang risiko itu akan jadi uang. Yang saya katkan ubahlah risiko itu jadi apa saja, bisa kebahagiaan, dll. Tidak harus jadi duit. Dan ini yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Kita kembali ke pertanyaan Anda. Apa key succes faktor saya?
itu kental sekali bahasa manajemen. Iya, kan?
Kalau mau jujur, kunci
sukses saya adalah kebodohan saya.

Kok bisa?

Karena saya bodoh, saya lugu. Mau ngapain saja. Mau mikir apa saja bebas. Sedangkan orang berpikir, oh ngga karena saya di sekolah belajar ini. Sekolah bilang tidak boleh begini-begini, akhirnya orang sulit menjadi kaya, karena bilang risikonya ini, ini, dan ini. Belum apa-apa sudah ngitung dulu. Kapan jadinya dong?

Syarat jadi entrepreneur, menurut Anda?

Memenuhi permintaan yang jelas itu normal. Tapi bagaimana menciptakan permintaan, itu baru. Entrepreneur harus begitu. Tidak ada pasar melon, saya tanam melon. Tidak ada pasar jagung manis, saya tanam jagung manis. Ketika saya pasarkan telor, pasarnya belum ada. Tidak ada pasar ayam broiler.

Label:

Sabtu, 23 Mei 2009

Keindahan Kekalahan Kemenangan


Entah sejak kapan, sudah lama manusia hidup hanya dengan sebuah tema: memburu kemenangan, mencampakkan kekalahan.

Di Jepang dan berbagai belahan dunia, banyak orang mengakhiri hidupnya hanya karena kalah. Hal-hal yang melekat pada kekalahan dinilai serba negatif: jelek, hina.

Sekolah sebagai tempat untuk menyiapkan masa depan juga ikut-ikutan. Melalui program serba juara, sekolah menguatkan keyakinan "kalah itu musibah". Tempat kerja juga serupa, tak ada yang absen dari kegiatan sikut-sikutan. Semua mau naik pangkat, tak ada yang ingin turun. Terutama dunia politik, kekalahan hanyalah kesialan. Dan aroma seperti inilah yang mewarnai Indonesia pada awal April 2009, menjelang pemilu dan pilpres.

Tidak ada yang melarang manusia mengejar kemenangan. Ia pembangkit energi yang membuat kehidupan berputar, pemberi semangat agar manusia tidak kelelahan. Tapi, seberapa besar energi dan semangat manusia, bila putaran waktunya kalah, tidak ada yang bisa menolaknya.

Karena itu, orang bijaksana melatih diri untuk tersenyum di depan kemenangan maupun kekalahan. Berjuang, berusaha, bekerja, berdoa tetap dilakukan. Namun, bila kalah, hanya senyuman yang memuliakan perjalanan.

Dihormati karena menang itu indah. Namun, tersenyum di depan kekalahan, hanya orang yang mendalam pandangannya yang bisa melakukan. Sebagian orang bijaksana malah bergumam, kekalahan lebih memuliakan perjalanan dibandingkan kemenangan. Di depan kekalahan, manusia sedang dilatih, dicoba, dihaluskan. Kekalahan di jalan ini berfungsi menghaluskan.

Kesabaran, kerendahhatian, ketulusan, keikhlasan, itulah kualitas-kualitas yang sedang dibuka oleh kekalahan. Ia yang sudah membuka pintu ini akan berbisik, kalah juga indah!

Jarang terjadi ada manusia mengukir makna mendalam di tengah gelimang kemenangan. Terutama karena kemenangan mudah membuat manusia lupa diri. Para pengukir makna yang mengagumkan, seperti Kahlil Gibran, Jalalludin Rumi, Rabindranath Tagore, Thich Nhat Hanh, semuanya melakukannya di tengah kesedihan. HH Dalai Lama bahkan menerima Hadiah Nobel Perdamaian sekaligus penghargaan sebagai warga negara kelas satu oleh Senat AS setelah melewati kesedihan dan kekalahan puluhan tahun di pengasingan.

Mengukir makna memang berbeda dengan mengukir kayu. Dalam setiap konstruksi makna terjadi interaksi dinamis antara realitas sebagaimana apa adanya dan kebiasaan seseorang mengerti (habit of undestanding). Ia yang biasa mengerti dalam perspektif tidak puas, serba kurang, selalu menuntut lebih, akan melihat kehidupan tak menyenangkan ada di mana-mana. Sebaliknya, ia yang berhasil melatih diri untuk selalu bersyukur, ikhlas, tulus lebih banyak melihat wajah indah kehidupan.

Belajar dari sini, titik awal memaknai kekalahan adalah melihat kebiasaan dalam mengerti, the blueprint is found within our mind. Membiarkan kemarahan dan ketidakpuasan mendikte pengertian akan memperpanjang penderitaan yang sudah panjang.

Seorang guru mengambil gelas yang berisi air, meminta muridnya memasukkan sesendok garam dan diaduk. Saat dicicipi, asin rasanya. Setelah itu, guru ini membawa murid itu ke kolam luas dengan sesendok garam yang dicampurkan ke air kolam dan rasanya tidak lagi asin.

Itulah batin manusia. Bila batinnya sempit dan rumit (fanatik, picik, mudah menghakimi), kehidupan pun menjadi mudah asin rasanya (marah, tersinggung, sakit hati). Saat batinnya luas, tak satu hal pun bisa membuat kehidupan menjadi mudah asin.

Dengan modal ini, lebih mudah memaknai kekalahan bila manusia berhasil mendidik diri berpandangan luas sekaligus bebas. Berusaha, bekerja, belajar, berdoa adalah tugas kehidupan. Namun, seberapa pun kehidupan menghadiahkan hasil dari sini, peluklah hasilnya seperti kolam luas memeluk sesendok garam.

Apa yang kerap disebut menang-kalah, sukses-gagal, dan hidup-mati hanyalah wajah putaran waktu. Persis saat jam menunjukkan pukul 06.00, saat Matahari terbit. Pukul 18.00, putaran waktu Matahari tenggelam. Memaksa agar pukul 06.00 Matahari tenggelam tidak saja akan ditertawakan, tetapi juga korban karena kecewa.

Memang terdengar aneh. Pejalan kaki yang sudah jauh ke dalam diri bila ditanya mau kaya atau miskin, akan memilih miskin. Atas menang atau kalah, ia akan memilih kalah. Kaya adalah berkah, namun sedikit ruang latihan di sana. Meski ditakuti banyak orang, kemiskinan menghadirkan daya paksa tinggi untuk senantiasa rendah hati. Menang memang membanggakan, namun godaan ego dan kecongkakan besar sekali. Nyaris semua orang tak ingin kalah, tetapi kekalahan adalah ibu kesabaran.

Seorang guru meditasi yang sudah sampai di sini pernah berbisik, finally I realize there is no difference between mind and sky. Inilah buah meditasi. Batin menjadi seluas langit. Tidak ada satu awan (awan hitam kesedihan, awan putih kebahagiaan) pun yang bisa mengubah langit. Dan ini lebih mungkin terjadi dalam manusia yang sudah berhasil memaknai kekalahan.

Oleh Gede Prama

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/25/0309250/kekalahan.kemenangan.keindahan

Gede Prama Bekerja di Jakarta; Tinggal di Bali Utara

Label: