Kamis, 22 Desember 2011

ripway

duh ini virus sukses bikin rusak blog orang.. sesuai namanya jalan bikin rip, banyak solusi yg gw dpt dari hasil gugling, ga bisa2 juga... jadi males bener gw, akhirnya balik ke classic template dan alhamdulillah bisa.. lumayanlah nantinya pelan2 kita bagusin lagi.. semangattt..

Label:

Rabu, 03 Agustus 2011

Jauh Dekat


Beberapa hari yang lalu, sewaktu gw di lift mo turun makan siang, tiba di suatu lantai ada dua orang ibu (penampilan bos) masuk ke lift.. melihat penumpang lift lainnya yg asik sama BB masing2, tiba2 salah satu ibu itu cerita ke temannya tsb,

"Dimana2 ya skrg pd asik BB an, sampe anak gw tuh parah bgt.. klo ditanya jawab abis itu BB an lagi, ke mall jg begitu, meski jalan bareng, tapi dia asik sama BB nya, ditanya mau makan apa dia jawab apa, trus lanjut BB an lagi"

"Bener2 ya teknologi.. yg jauh jadi dekat, tapi juga yg dekat jadi jauh" sambung Ibu itu lagi..

Begitulah khutbah singkat dari seorang ibu yg dicuekin anaknya, eniweii buat pelajaran aja , klo lg BB an jgn sampai melupakan orang yg lg ada disekitar kita.. kasihan kalo sampe ada yg merasa dicuekin.. jangan sampe dikatain autis, apalagi kalo pacar sendiri yg merasa dicuekin, bisa dibuang tuh BB.. ampunnn dah

Label: ,

Sabtu, 02 Januari 2010

Transition Roadable Aircraft


A U.S. company has realized the longstanding fantasy of a flying car.


Terrafugia Inc.’s “roadable aircraft,” named Transition, completed its first flight at Plattsburgh, N.Y., on Wednesday, the company said.

“It’s what aviation enthusiasts have been striving for since 1918,” CEO Carl Dietrich said in a news release.

But with an expected price tag of $194,000 US by the time the first one is delivered to a user in 2011, it’s not likely to reach a mass market. The Transition is aimed at giving sport and private pilots convenient ground transportation.

According to the company, the two-seat vehicle can take off and land at smaller airports, and the pilot can convert it to a roadworthy vehicle by retracting the wings from inside the cockpit in less than 30 seconds.

Terrafugia — Latin for “escape from land” — can drive at regular speeds on the ground and do about 180 km/h in the air. Its tank holds enough unleaded gas for four hours of cruising. It fits in a garage, has front-wheel drive for the surface and a pusher propeller for flight.

The Transition requires a U.S. sport pilot licence to fly, but the company website said that could take as little as 20 hours of flight time in a Transition-specific course.

A “full vehicle parachute” is available.

Users would have to file a flight plan on trips between larger airports.

Terrafugia, based in Woburn, Mass., near Boston, was founded by five pilots who are graduates of Massachusetts Institute of Technology, and is backed by private investors.


http://www.cbc.ca/consumer/story/2009/03/20/flying-car.html
http://pirabuwin.wordpress.com

Label:

Minggu, 20 September 2009

Mudik, Memasuki Time Tunnel

Jakarta - Hari-hari ini eksodus besar-besaran terjadi di kota. Jutaan orang berserak memenuhi jalanan. Dengan berbagai gaya dan sarana mereka pergi secara bersamaan. Akibatnya tidak hanya terminal, bandara dan stasiun yang sesak, tetapi juga jalan raya. Motor dan mobil dipacu tak istirah, dengan satu tujuan mudik ke kampung halaman. Ini ritus laten yang berlangsung tiap tahun. Lebaran kian dekat, dan ritus macam itu juga terus terulang. Tidak ada yang merasa jenuh dan lelah menjalani. Suasana riuh-rendah dan crowded di mana-mana menjadi kenikmatan. Di hari menjelang Idul Fitri ini berjubel dalam antrean dan berarak ‘tak beraturan’ di tengah kemacetan bukan lagi beban. Semua sukacita. Itu bukan prerogatif yang mapan dan kecukupan. Saudara-saudara kita yang tertimpa musibah gempa juga menyambut hari itu dengan batin yang sama. Itu karena di Idul Fitri ini keluarga yang terberai bertemu. Dan suka maupun duka menyatu dalam kisah yang melodramatik. Menjelang lebaran situasi gabah diinteri memang bukan gambaran suram. Itu seperti surga yang lama dinanti-nanti. Tak hanya sebagai perayaan di hari kemenangan setelah berpuasa, tapi juga sebagai hari untuk berkaca diri dan melihat masalalu. Sekarang inilah saatnya pemudik memasuki ‘time tunnel’. Melakukan napak tilas, memutar ulang jalan setapak dari proses panjang sebuah perjalanan. Suasana syahdu itu yang terbayang. Beban itu yang tersandang. Menumpuk di sebuah bab dalam buku catatan kegagalan dan keberhasilan dari orang-orang yang berasal dari desa itu. Diary ini tidak pernah dibuka dan tidak pernah diungkap. Kota yang kompetitif membuat semuanya soliter. Hidup sendiri. Langka manusia solider. Tak banyak yang rela berbagi telinga untuk mendengar kisah yang lain. Di desa, telinga dan anggukan kepala melimpah. Kisah romantis dari kota, betul atau karangan, diamini setulus hati. Mereka bangga warganya berhasil di ‘negeri seberang’. Mereka respek dengan keberanian serta kegigihan siapa saja yang berhasil ‘menaklukkan’ kota besar. Bagi warga desa tidak ada lawan atau kompetitor. Yang ada, semuanya saudara, teman dan handai taulan. Suasana yang memberi ruang untuk berbagi suka dan duka itu yang lama diidamkan. Salah dan benar tidak disoal, melebur dalam fitrah. Kalau salah dimaafkan, syukur-syukur benar. Di desa manusia kembali ke asal. Alpa atau sadar semuanya dikemas jadi fitri, tanpa noda. Itu karena sikap tanpa pamrih dan apresiasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi soko guru masyarakatnya. Suasana seperti itu yang paling mahal. Betapa kerinduan terhadap kampung halaman telah mengisi relung tersendiri dalam hati kecil tiap individu. Itu yang sering menggugah alam bawah sadar untuk kembali diputar ulang dan dikisahkan berulang-ulang. Tapi bagaimana mungkin ‘siksa’ menjadi surga hanya sekadar untuk berbagi kisah dan menengok masalalu di desa? Ada seorang teman yang punya kebiasaan unik tatkala menjelang lebaran tiba. Menunggu berbuka puasa dia ‘ngabuburit’ di terminal. Melihat riuh orang mudik, dan mengamati ‘fashion pemudik’ dengan gaya khasnya membawa dos-dos besar terpanggul di pundak. Menyaksikan para pemudik itu ‘perang’ berebut naik bus berjejal-jejalan, tiba-tiba airmata sang teman itu meleleh. Mulutnya mendesis pelan, dan dari mulutnya terlontar dzikrullah berulang-ulang. Allah, Allah, Allah, Alhamdulillah ya Allah ! Adakah asma Allah itu ditujukan untuk mendoakan agar sang pemudik selamat sampai tujuan? Ataukah itu lontaran belas kasih terhadap pemudik yang ‘kalah perang’ berjuang memperbaiki taraf hidup di perkotaan? “Bukan, saya justru rindu menjadi mereka. Saya terharu dengan spirit mereka pulang kampung di hari raya Idul Fitri. Entah, saban tahun saya tak kuasa untuk tidak menangis melihat pemandangan itu. Adakah ini karena saya orang kota yang sudah kehilangan keluarga masalalu saya di desa?” Subhanallah ! Pulang kampung memang surga. Selamat berlebaran di desa, saudaraku ! * Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta
Djoko Suud Sukahar - detikNews


Label: